Saturday, December 10, 2011

IKLAN POLITIK

Bila iklan pemerintah berhasil mempengaruhi masyarakat, yang ditandai dengan berduyun-duyunnya masyarakat mengikuti program tersebut, pemerintah dinilai berhasil dalam menjalankan kebijakan yang ditempuhnya. Pemerintah berkeinginan agar setiap kebijakan dan program mendapat dukungan dari masyarakar. Karena kesuksesan sebuah pemerintahan, dinilai dari sejauh mana masyarakat mendukung dan menjalankan setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.
           Iklan politik yang merupakan bagian dari pemasaran politik adalah pemasangan iklan oleh organisasi politik dan pemerintah di media massa. Iklan politik adalah iklan yang dikeluarkan oleh partai politik atau individu untuk kepentingan pencitraan guna meraih simpati masyarakat. Dengan tujuan mempengaruhi masyarakat agar memilih parpol atau kandidat yang diiklankan pada saat Pemilu. Kehadiran iklan politik dalam ranah periklanan di tanah air, diapresiasi oleh kalangan praktisi periklanan yaitu Perusahaan Periklanan Periklanan Indonesia (P3I).
Di Indonesia iklan politik semakin penting digunakan para politisi dalam pemilihan kepala daerah maupun pemilihan presiden, tetapi juga tak lepas dari kontroversi. Pakar politik Arbi Sanit misalnya menilai langkah sejumlah tokoh politik yang mengiklankan dirinya di media massa saat ini untuk menghadapi pemilu 2009 merupakan bentuk kecurangan kepada masyarakat. Sebab menurutnya lewat iklan itu masyarakat tak dapat menilai kapasitas seseorang. Lebih jauh Arbi, seperti dikutip Kompas mengatakan:
“Lewat iklan itu, masyarakat hanya diajak untuk memilih orang yang populer. Ini menjebak rakyat karena pemimpin tidak cukup bermodalkan popularitas tetapi harus memiliki pengalaman dan terbukti teruji. Di Indonesia iklan membuat orang dapat berubah citra dalam waktu singkat. Seharusnya, orang itu juga harus membuktikan kemampuannya, misalnya membuat partainya memenangi pemilu. Iklan oleh aktivis parpol terbukti efektif mempengaruhi rakyat. Ini terlihat pada Pemilu 2004. Momen itu (Pemilu 2004) yang memancing adanya kesalahan jalan politik kita, terutama lewat iklan.”

            Televisi merupakan media komunikasi yang paling populer. Ini membuat pengiklan menjadikan televisi sebagai pilihan utama, dan televisi sendiri sangat membutuhkan dana untuk mengadakan aneka program siarannya. Sudah menjadi fakta bahwa setiap penulis skenario atau sutradara film televisi harus mengatur adegan sedemikian rupa agar pada waktu-waktu tertentu bisa disela iklan dengan mudah (Rivers, Peterson, Jensen, 2004:188). Televisi menjadi sasaran iklan total belanja iklan pada tiga bulan pertama 2008 tumbuh 23 persen dibandingkan dengan triwulan pertama 2007, dari Rp 7,019 triliun menjadi Rp 8,661 triliun. Porsi iklan terbesar masih dikuasai media televisi, yakni 62 persen atau senilai Rp 5,386 triliun.(Kompas, 23 April 2008)

No comments:

Post a Comment